Modul 1: Pengantar Epidemiologi
A. Posisi modul dalam struktur capaian pembelajaran
Salah satu capaian pembelajaran dalam mata kuliah ini, yaitu CPMK-1 adalah “Mahasiswa mampu mengevaluasi status kesehatan populasi hewan melalui integrasi konsep epidemiologi deskriptif dan analitis sebagai dasar pengambilan keputusan.”
CPMK-1 memiliki beberapa Sub-CPMK sebagai turunannya, salah satunya adalah Sub-CPMK-1, yaitu “Mahasiswa mampu menguraikan konsep dasar epidemiologi veteriner yang mencakup peran, ruang lingkup, pola kejadian penyakit, jenis pendekatan epidemiologi, dan prinsip estimasi demografi populasi hewan.” Modul ini dirancang sebagai bahan ajar untuk Sub-CPMK-1.
Penguasaan Sub-CPMK-1 akan membekali mahasiswa dengan prinsip-prinsip dasar epidemiologi veteriner dan prinsip-prinsip dasar estimasi populasi hewan. Setelah menyelesaikan modul ini, mahasiswa akan siap untuk mempelajari modul berikutnya tentang dinamika penyakit dalam populasi.
B. Indikator keberhasilan
Keberhasilan pembelajaran pada modul (Sub-CPMK) ini diukur melalui empat indikator.
| Kode | Uraian indikator |
|---|---|
| Indikator 1.1 | Ketepatan dalam menggolongkan pola kejadian penyakit (endemi, epidemi, sporadis, wabah, dan pandemi). |
| Indikator 1.2 | Ketepatan dalam menguraikan ruang lingkup dan peran epidemiologi. |
| Indikator 1.3 | Ketepatan dalam menguraikan perbedaan antara pendekatan epidemiologi deskriptif dan analitis beserta tujuan penggunaannya. |
| Indikator 1.4 | Ketepatan dalam menguraikan prinsip estimasi populasi hewan untuk keperluan epidemiologis. |
C. Bentuk penilaian
Penguasaan Sub-CPMK-1 dinilai dengan dua bentuk.
| No | Bentuk | Metode | Proporsi terhadap nilai akhir |
|---|---|---|---|
| 1 | Non-tes | Tugas berbasis masalah | 2,5% |
| 2 | Tes | Ujian tengah semester | 2,5% |
D. Alokasi waktu dan kegiatan belajar
Sub-CPMK-1 dirancang untuk diselesaikan dalam satu kegiatan belajar (satu pekan), yang terdiri atas 120 menit kegiatan belajar mandiri, 100 menit kegiatan belajar terbimbing (perkuliahan tatap muka), dan 120 menit menyelesaikan kegiatan penugasan terstruktur.
| Pekan | Kode | Topik |
|---|---|---|
| 1 | Kegiatan belajar 1.1 | Pengantar epidemiologi |
Kegiatan Belajar 1.1: Pengantar Epidemiologi Veteriner
I. Peta konsep
Epidemiologi veteriner
├── Pendekatan analisis
│ ├── Perspektif klinisi
│ └── Perspektif epidemiolog
├── Pola kejadian penyakit
│ ├── Endemi
│ ├── Hiperendemi
│ ├── Sporadis
│ ├── Wabah
│ ├── Epidemi
│ └── Pandemi
├── Kajian epidemiologi
│ ├── Epidemiologi deskriptif
│ ├── Epidemiologi analitis
│ ├── Epidemiologi prediktif
│ └── Epidemiologi intervensional
└── Estimasi populasi hewan
└── Metode perhitungan
├── Estimasi data primer
│ ├── Observasi langsung
| | └── Sensus
│ | └── Sampel area
│ | └── Probabilitas deteksi
│ ├── Observasi tidak langsung
│ └── Pelaporan manusia
└── Estimasi data sekunder
Gambar 1.1. Peta konsep dalam modul ini.
II. Uraian materi
A. Dasar-dasar epidemiologi
Secara sederhana, epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana penyakit-penyakit muncul dan menyebar di dalam populasi dan bagaimana cara mengendalikannya. Dengan mempelajari epidemiologi, kita menggunakan perspektif baru dalam melihat penyakit. Kita tidak lagi melihat penyakit pada satu per satu individu, tetapi pada keseluruhan populasi.
Epidemiologi dipelajari dalam kedokteran hewan. Kita menyebutnya “epidemiologi veteriner”. Namun, ada pula orang yang menyebut ilmu ini “epizootiologi”, yang merupakan padanan epidemiologi untuk populasi hewan.
Bayangkan ada seorang dokter hewan yang bekerja di peternakan yang memiliki 100 ekor sapi perah. Dalam seminggu terakhir, 10 sapi mengalami diare dan penurunan produksi susu. Dokter hewan tersebut mungkin berpikir:
- Apakah ini hanya kebetulan?
- Apakah ada pola tertentu?
- Apa kesamaan yang dimiliki oleh sapi-sapi yang sakit?
- Mengapa 10 ekor sapi ini yang terdampak dan bukan 90 ekor sapi lainnya?
Dengan pendekatan epidemiologis, kita tidak berfokus pada seekor hewan, tetapi menyelidiki keseluruhan populasi.
Epidemiologi berangkat dari konsep sederhana: Semua makhluk hidup bisa terganggu kesehatannya dan menjadi sakit. Pada umumnya, penyakit tidak muncul secara acak, tetapi mengikuti pola tertentu yang dapat dipelajari. Dengan mengamati dan menganalisis pola-pola ini, kita dapat mencegah dan mengendalikan penyakit, yang tidak hanya terjadi pada tingkat individu, tetapi juga pada tingkat populasi.
1. Asal kata
Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari tiga akar kata utama: epi (di atas atau pada), demos (rakyat, masyarakat, atau populasi), dan logos (ilmu atau studi). Secara harfiah, epidemiologi berarti “ilmu tentang sesuatu yang terjadi pada masyarakat.”
Epidemiologi juga dapat dimaknai sebagai “ilmu yang mempelajari epidemi”. Kata ini berasal dari bahasa Yunani epidemios, yang berarti ‘tersebar dalam masyarakat.’
Kata epidemi pertama kali digunakan dalam konteks kesehatan oleh Hippokrates, tokoh Yunani Kuno yang dikenal sebagai “Bapak Kedokteran”. Ia menggunakan istilah epidemios untuk merujuk pada sekumpulan sindrom fisik yang beredar dan menyebar dalam suatu populasi manusia pada waktu tertentu.
Sejak zaman peradaban kuno, ada dua istilah yang menggambarkan situasi penyakit dalam suatu populasi: epidemi dan endemi.
-
Epidemi berasal dari epi- (di atas) dan demos (populasi). Artinya, kondisi saat suatu penyakit “mengunjungi” populasi. Istilah ini digunakan ketika suatu penyakit muncul dan menyebar dengan cepat dalam suatu populasi dan jumlahnya melampaui angka yang biasanya diprediksi dalam periode waktu tertentu.
-
Di sisi lain, endemi berasal dari en- (di dalam) dan demos (populasi). Artinya, kondisi saat suatu penyakit “mendiami” populasi. Istilah ini digunakan ketika suatu penyakit selalu ada dalam suatu populasi dengan tingkat kejadian yang relatif stabil dan dapat diprediksi.
Sebagai contoh, rabies bersifat endemik di beberapa wilayah tropis, sedangkan flu burung dapat menjadi epidemi ketika terjadi peningkatan kasus secara drastis di luar pola normalnya.
2. Berpikir epidemiologis
Salah satu butir kompetensi dokter hewan Indonesia menurut Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia adalah:
… memiliki kemampuan dalam melakukan diagnosis klinis, laboratoris, patologis, dan epidemiologis penyakit hewan
Artinya, suatu diagnosis dapat ditegakkan melalui empat pendekatan: klinis, laboratoris, patologis, dan epidemiologis.
- Diagnosis klinis didasarkan pada hasil pemeriksaan fisik berupa tanda-tanda penyakit pada hewan.
- Diagnosis laboratoris didasarkan pada hasil pemeriksaan dan pengujian laboratorium terhadap spesimen seperti darah, feses, dan urine.
- Diagnosis patologis didasarkan pada perubahan jaringan atau organ, baik melalui pemeriksaan makroskopis (bedah bangkai) maupun mikroskopis (histopatologis).
- Diagnosis epidemiologis didasarkan pada hasil analisis pola penyebaran penyakit dalam populasi, termasuk karakter hewan, tempat, waktu, dan faktor risiko yang berperan.
Dalam praktiknya, dokter hewan dapat menggunakan berbagai pendekatan untuk memecahkan masalah kesehatan hewan. Seorang klinisi biasanya menangani penyakit dari perspektif individu hewan. Sebagai contoh, ketika seekor sapi sakit, seorang klinisi akan melakukan pemeriksaan fisik, mendiagnosis penyakit berdasarkan tanda klinis yang ditunjukkan, dan memberikan pengobatan langsung kepada hewan tersebut. Tujuan utama seorang klinisi adalah menyembuhkan individu yang sakit dan pendekatannya sering kali bersifat kuratif, misalnya pemberian obat atau pembedahan.
Di sisi lain, seorang epidemiolog mencoba memahami faktor-faktor yang memengaruhi penyebaran penyakit dalam suatu kelompok hewan. Sebagai contoh, jika dalam suatu peternakan terjadi peningkatan kasus diare pada sapi, seorang epidemiolog tidak hanya mendiagnosis satu ekor sapi, tetapi juga mencari pola dalam populasi, seperti apakah semua sapi yang sakit berasal dari kandang yang sama, apakah mereka mengonsumsi pakan yang sama, atau apakah ada faktor lingkungan yang berperan. Tujuan utama seorang epidemiolog adalah mencegah dan mengendalikan penyakit dalam populasi sehingga pendekatannya berbasis pembuatan kebijakan atau aturan, yang sering kali bersifat preventif.
Tabel 1.1. Perbandingan perspektif seorang klinisi dan epidemiolog.
| Perbandingan | Klinisi | Epidemiolog |
|---|---|---|
| Unit yang diperhatikan | Individu | Populasi |
| Tujuan | Menjaga kesehatan individu dan menyembuhkan individu sakit | Mencegah dan mengendalikan penyakit pada populasi |
| Penegakan diagnosis | Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pencitraan diagnostik | Berdasarkan analisis statistika dan kajian epidemiologis |
| Tindakan penanganan | Melakukan perawatan medis, menghantarkan obat, atau melakukan pembedahan | Membuat aturan yang memodifikasi perlakuan terhadap populasi |
Sebagai perbandingan, pada kedokteran manusia, ilmu untuk menjadi klinisi diberikan kepada mahasiswa di fakultas kedokteran, sedangkan ilmu untuk menjadi epidemiolog disajikan di fakultas kesehatan masyarakat. Namun, mahasiswa kedokteran hewan menerima ilmu untuk menjadi klinisi dan sekaligus menjadi epidemiolog.
Dengan mengadopsi pendekatan epidemiologis, seorang dokter hewan dapat memperluas perannya dari sekadar menangani individu yang sakit menjadi menganalisis dan mencegah penyakit dalam skala yang lebih luas. Pendekatan ini sangat penting dalam menghadapi ancaman penyakit menular dan zoonosis yang semakin kompleks dalam skala global.
3. Pola kejadian penyakit
Ketika dihadapkan dengan seekor hewan, seorang klinisi akan mengamati tanda klinis yang ditunjukkan oleh hewan tersebut. Misalnya, ia menemukan bahwa hewan itu pincang, mengalami gangguan pada kulit dan rambut, dan terdapat leleran dari hidungnya.
Seorang epidemiolog juga dapat mengamati “tanda klinis” dari suatu populasi. Ada pola-pola tertentu mengenai kejadian penyakit yang ditunjukkan oleh populasi. Suatu populasi (atau suatu daerah) memiliki status dan situasi.
Secara garis besar, suatu populasi dapat dinyatakan berstatus “bebas dari penyakit” atau berstatus “tertular penyakit”. Meskipun demikian, di Indonesia, pemerintah membuat status ketiga, yaitu “terduga”. Maksudnya, di daerah tersebut belum terdapat laporan kasus penyakit, tetapi berbatasan langsung dengan daerah yang berstatus tertular penyakit.
Ketika ada dua populasi yang sama-sama berstatus “tertular”, situasi penyakit di daerah tersebut bisa saja berbeda. Bisa saja pada populasi A situasi penyakitnya adalah “endemi”, sedangkan pada populasi B, penyakitnya berada pada situasi “epidemi”. Statusnya sama, tetapi situasinya berbeda. Inilah yang dimaksud dengan perbedaan pola kejadian penyakit.
Selain epidemi dan endemi, ada beberapa istilah lain yang sering digunakan untuk menggambarkan situasi penyakit dalam populasi, seperti hiperendemi, wabah, pandemi, dan sporadis.
-
Hiperendemi adalah situasi ketika suatu penyakit terus-menerus ada dalam suatu populasi dengan tingkat kejadian yang tinggi dan stabil. Artinya, kasus penyakit muncul secara rutin seperti endemi, dengan jumlah yang tinggi. Contohnya adalah malaria yang secara konsisten terjadi dalam angka tinggi di beberapa daerah tropis sepanjang tahun.
-
Wabah mengacu pada peningkatan kasus suatu penyakit di suatu wilayah tertentu dalam waktu yang relatif singkat, dan sering kali dalam skala yang lebih kecil dibandingkan dengan epidemi. Contoh wabah adalah peningkatan mendadak kasus leptospirosis setelah banjir di suatu daerah.
-
Pandemi adalah epidemi yang terjadi dalam skala global atau lintas benua, seperti pandemi Covid-19 yang menyebar ke hampir seluruh negara di dunia.
-
Sporadis merujuk pada kasus penyakit yang muncul secara tidak teratur tanpa pola yang jelas, seperti kasus antraks pada hewan yang kadang-kadang muncul di daerah tertentu.
Banyak orang menganggap bahwa wabah adalah sinonim epidemi. Namun, keduanya memiliki perbedaan dalam cakupan luasnya. Wabah biasanya mengacu pada kejadian yang lebih terbatas dalam skala wilayah tertentu, seperti di satu desa, kota, atau lokasi spesifik. Sementara itu, epidemi menggambarkan penyebaran penyakit dalam wilayah yang lebih luas dan sering kali berdampak pada sejumlah besar individu dalam suatu populasi. Contoh perbedaan ini dapat dilihat pada kasus flu babi yang dimulai sebagai wabah di daerah spesifik dan berkembang menjadi epidemi dan akhirnya menjadi pandemi.
Tabel 1.2. Contoh endemi, wabah, epidemi, dan pandemi pada populasi manusia dan hewan.
| Situasi penyakit | Contoh pada populasi manusia | Contoh pada populasi hewan |
|---|---|---|
| Endemi | Malaria di beberapa bagian Afrika | Penyakit mulut dan kuku di beberapa bagian Afrika |
| Wabah | Wabah kolera di kamp pengungsian | Wabah flu burung di peternakan ayam |
| Epidemi | Virus ebola di Afrika Barat (2014–2016) | Penyakit sapi gila di Inggris Raya (1990-an) |
| Pandemi | Covid-19 | Rinderpest (sebelum dieradikasi) |
Terkadang, kita sering membaca atau mendengar istilah “kejadian luar biasa” (KLB). Ini adalah istilah yang hanya ada di Indonesia dan hanya digunakan untuk kejadian penyakit pada manusia, bukan pada hewan. Pada populasi manusia, predikat KLB diberikan terlebih dahulu sebelum wabah.
Tabel 1.3. Perbedaan definisi KLB dan wabah menurut undang-undang.
| Istilah | Definisi dalam UU Kesehatan | Definisi dalam UU Peternakan dan Kesehatan Hewan |
|---|---|---|
| Kejadian luar biasa | meningkatnya kejadian, kesakitan, kematian, dan/atau kedisabilitasan akibat penyakit dan masalah kesehatan yang bermakna secara epidemiologis di suatu daerah pada kurun waktu tertentu | tidak ada |
| Wabah | meningkatnya kejadian luar biasa penyakit menular yang ditandai dengan jumlah kasus dan/atau kematian meningkat dan menyebar secara cepat dalam skala luas. | kejadian penyakit luar biasa yang dapat berupa timbulnya suatu penyakit hewan menular baru di suatu wilayah atau kenaikan kasus penyakit hewan menular mendadak yang dikategorikan sebagai bencana nonalam. |
Saat kita ingin menetapkan status wabah, ada perbedaan aturan pada populasi manusia dan pada populasi hewan. Hal inilah yang terkadang membuat pelaksanaan tindakan di lapangan menjadi kurang selaras. Meskipun demikian, perbedaan ini dapat dijembatani dengan pendekatan satu kesehatan.
4. Sejarah
Prinsip-prinsip epidemiologi telah diterapkan sejak zaman Yunani Kuno, seperti konsep bahwa penyakit muncul akibat interaksi antara manusia dan lingkungan. Namun, julukan “Bapak epidemiologi modern” diberikan kepada John Snow, seorang dokter asal Inggris yang hidup pada abad ke-19.
Pada tahun 1854, London mengalami wabah kolera yang sangat mematikan. Pada saat itu, penyebab penyakit ini belum diketahui secara pasti. Teori dominan yang berkembang adalah teori miasma yang menyatakan bahwa penyakit menular disebarkan melalui udara yang terkontaminasi oleh miasma, yaitu partikel kecil yang mengakibatkan bau busuk. Namun, John Snow memiliki dugaan yang berbeda. Ia mencurigai bahwa penyebaran kolera berkaitan dengan konsumsi air yang terkontaminasi.
Untuk membuktikan hipotesisnya, Snow memetakan lokasi kasus kolera di London dan menemukan bahwa sebagian besar kasus terpusat di sekitar pompa air di Broad Street. Dengan melakukan wawancara dan analisis lebih lanjut, ia menemukan bahwa orang yang mengonsumsi air dari pompa tersebut lebih rentan terkena kolera dibandingkan mereka yang mendapatkan air dari sumber lain.
Sebagai tindakan pengendalian, Snow meyakinkan pemerintah setempat untuk mencabut pegangan pompa air di Broad Street sehingga warga tak bisa menggunakannya. Setelah itu, wabah kolera berhenti menyebar.
Penemuan ini menjadi bukti awal bahwa penyakit dapat ditularkan melalui sumber air yang terkontaminasi. Wabah kolera dikendalikan bahkan sebelum bakteri penyebabnya, yaitu Vibrio cholerae, ditemukan oleh Robert Koch pada tahun 1884, sekitar 30 tahun setelah studi Snow. Melalui data epidemiologis, John Snow dapat memperkirakan sumber penyakit dan penyebarannya.
Dalam bidang kedokteran hewan, epidemiologi mengalami kemajuan pesat pada akhir abad ke-19. Penelitian tentang demam sapi Texas menjadi salah satu pemicunya. Penyakit ini menjadi masalah serius di Amerika Serikat karena menyebabkan angka kematian yang cukup tinggi.
Pada akhir dasawarsa 1880-an, Theobald Smith (seorang dokter) dan Frederick Kilbourne (seorang dokter hewan) menemukan bahwa penyakit ini tidak menyebar langsung dari satu sapi ke sapi lainnya, tetapi memerlukan perantara. Mereka menyimpulkan bahwa caplak Boophilus annulatus berperan sebagai vektor yang mentransmisikan agen penyakit dari sapi yang terinfeksi ke sapi yang sehat.
Penemuan ini merupakan momen sejarah yang penting. Mereka membuktikan bahwa artropoda, yang dalam hal ini adalah caplak, dapat membawa dan mentransmisikan patogen dari satu hewan ke hewan lain. Hal ini membuka konsep tentang vektor penyakit.
Sebelum penemuan ini, sebagian besar ilmuwan dan dokter belum mengetahui bahwa artropoda bisa menjadi penular penyakit. Oleh karena itu, studi tentang demam sapi Texas (saat ini dikenal sebagai babesiosis sapi) membuka pemahaman bahwa artropoda seperti nyamuk dan kutu dapat menularkan penyakit seperti malaria dan demam kuning. Selain itu, temuan ini juga menjadi dasar bagi penerapan program pengendalian penyakit berbasis vektor, seperti pemberantasan caplak untuk mengurangi penyebaran penyakit pada ternak.
5. Definisi epidemiologi secara komprehensif
Ada banyak definisi epidemiologi. Namun, salah satu definisi yang komprehensif dan banyak digunakan yaitu:
Epidemiologi adalah studi ilmiah mengenai distribusi dan determinan dari kondisi atau peristiwa yang berhubungan dengan kesehatan pada populasi yang spesifik dan penerapan studi ini untuk mengendalikan masalah kesehatan.
Ada beberapa kata dan frasa kunci dalam definisi tersebut.
- Distribusi
- Determinan
- Kondisi atau peristiwa yang berhubungan dengan kesehatan
- Populasi
- Penerapan
Lima hal inilah yang menjadi ruang lingkup epidemiologi. Mari kita bahas satu per satu.
-
Kondisi atau peristiwa yang berhubungan dengan kesehatan: Epidemiologi tidak hanya mempelajari penyakit (misalnya penyakit menular dan tidak menular), tetapi lebih luas dari itu. Dalam epidemiologi, kita juga mempelajari berbagai kondisi (seperti cedera, malnutrisi, dan kebuntingan) serta berbagai peristiwa (seperti keracunan pakan, penurunan produksi telur atau susu, dan kematian mendadak).
-
Distribusi: Ini adalah penjelasan mengenai kondisi atau peristiwa kesehatan berdasarkan karakteristik subjek (siapa yang terdampak), tempat (di mana ia terjadi), dan waktu (kapan ia terjadi). Sebagai contoh, apakah kasus lebih banyak terjadi pada musim hujan, di kota besar, atau pada jenis hewan tertentu seperti kuda pacu. Pemahaman mengenai distribusi membantu kita memahami pola penyebaran suatu kondisi atau peristiwa kesehatan.
-
Determinan: Ini adalah faktor yang memengaruhi kesehatan hewan. Ia dapat berupa unsur genetik, pakan, sanitasi lingkungan, sistem pemeliharaan, atau keberadaan vektor serangga. Pemahaman mengenai determinan membantu kita untuk mencari tahu apa penyebab atau pemicu suatu kondisi atau peristiwa kesehatan.
-
Populasi: Ini adalah kelompok hewan yang menjadi fokus kajian. Individu-individu hewan yang memiliki kesamaan karakteristik tertentu digolongkan sebagai populasi, misalnya gajah yang lahir pada tahun tertentu, kambing di sebuah desa, atau anjing jalanan di suatu kota.
-
Penerapan: Ini berarti menggunakan hasil kajian epidemiologis untuk mencegah dan mengendalikan masalah kesehatan serta meningkatkan status kesehatan populasi. Contohnya membuat program vaksinasi massal, meningkatkan kebersihan kandang, atau membatasi lalu lintas hewan untuk mencegah penyebaran penyakit.
6. Pertanyaan kunci dalam epidemiologi
Setiap bidang ilmu dibangun dan dikembangkan untuk menyelesaikan masalah. Begitu pula dengan epidemiologi. Kalau begitu, apa saja masalah yang diselesaikan oleh epidemiologi?
Ada banyak pertanyaan yang dapat diajukan dan dijawab oleh epidemiologi, terutama hal-hal yang berkaitan dengan kondisi atau peristiwa kesehatan dan populasi spesifik yang terdampak. Kita akan mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan kerangka 5W+1H.
Namun, sebelum itu, coba tentukan dulu dua unsur ini: (1) kondisi atau peristiwa kesehatan, dan (2) populasi spesifik. Kedua unsur ini kita gabungkan dan kemudian kita jadikan bahan pertanyaan. Contoh:
- Kecanduan merokok pada penduduk Indonesia.
- Rabun jauh pada mahasiswa Universitas Hasanuddin.
- Obesitas pada anjing di Kota Makassar.
Tabel berikut ini berisi pertanyaan-pertanyaan kunci untuk mendapatkan jawaban atau informasi epidemiologis yang penting.
Tabel 1.4. Pertanyaan terkait kondisi atau peristiwa kesehatan dalam populasi spesifik.
| Kata tanya | Contoh pertanyaan |
|---|---|
| What (apa) | Apakah kondisi atau peristiwa tersebut ada di dalam populasi? |
| Who (siapa) | Siapa saja dalam populasi yang (paling banyak) mengalami kondisi atau peristiwa kesehatan tersebut? |
| Where (di mana) | Di mana saja kondisi atau peristiwa kesehatan tersebut (paling banyak) ditemukan dalam populasi? |
| When (kapan) | Kapan saja kondisi atau peristiwa kesehatan tersebut terjadi (atau mulai terjadi)? Kapan waktu ketika kondisi atau peristiwa kesehatan tersebut paling sering terjadi pada populasi? |
| Why (mengapa) | Mengapa populasi mengalami kondisi atau peristiwa kesehatan tersebut? Mengapa kondisi atau peristiwa kesehatan tersebut lebih sering ditemukan pada kelompok tertentu dalam populasi? |
| How (bagaimana) | Bagaimana cara kondisi atau peristiwa kesehatan tersebut dapat menyebar di antara individu dalam populasi? Bagaimana perkiraan kejadian kondisi atau peristiwa kesehatan tersebut pada masa depan? Bagaimana cara mengendalikan penyebaran kondisi atau peristiwa kesehatan tersebut dalam populasi? Bagaimana efektivitas suatu intervensi dalam menurunkan angka kejadian kondisi atau peristiwa kesehatan tersebut dalam populasi? |
Sekian banyak pertanyaan di atas dapat dibagi menjadi empat kelompok yang mencerminkan fungsi epidemiologi, yaitu deskripsi, eksplanasi, prediksi, dan intervensi.
-
Deskripsi merupakan fungsi epidemiologi yang memerinci kejadian suatu kondisi atau peristiwa kesehatan dalam populasi berdasarkan karakteristik individu, tempat, dan waktu. Hal-hal ini dijawab oleh pertanyaan yang menggunakan kata what, who, when, dan where.
-
Eksplanasi merupakan fungsi epidemiologi yang menggali penyebab atau faktor yang berperan dalam terjadinya kondisi atau peristiwa kesehatan dalam populasi. Hal-hal ini dijawab oleh pertanyaan yang menggunakan kata why.
-
Prediksi merupakan fungsi epidemiologi yang memperkirakan kemungkinan kejadian suatu kondisi atau peristiwa kesehatan pada masa depan berdasarkan data yang ada.
-
Intervensi merupakan fungsi epidemiologi yang merancang, menerapkan, dan mengevaluasi tindakan atau kebijakan untuk mencegah atau mengendalikan kondisi atau peristiwa kesehatan dalam populasi.
Catatan: Jawaban atas pertanyaan yang menggunakan kata how dapat ditempatkan dalam fungsi eksplanasi, prediksi, atau intervensi, bergantung pada konteks dan kontennya.
Keempat fungsi epidemiologi tersebut membantu mengarahkan cara berpikir dan menentukan konsep yang tepat dalam epidemiologi. Tabel berikut merangkum topik pertanyaan utama, jenis informasi yang dihasilkan, serta kajian epidemiologi yang relevan dengan masing-masing fungsi.
Tabel 1.5. Jenis-jenis kajian epidemiologi.
| Topik pertanyaan | Jawaban (informasi yang dihasilkan) | Jenis kajian epidemiologi |
|---|---|---|
| Seperti apa distribusi dari suatu kondisi atau peristiwa kesehatan dalam populasi? | Kehadiran, frekuensi, pola, dan tren kondisi atau peristiwa kesehatan berdasarkan subjek, tempat, dan waktu | Deskriptif |
| Apa saja determinan atau faktor penyebab dari suatu kondisi atau peristiwa kesehatan dalam populasi? | Penyebab, sumber, dan paparan yang memengaruhi risiko terjadinya kondisi atau peristiwa kesehatan | Analitis (atau inferensial) |
| Seperti apa perkiraan kejadian dari suatu kondisi atau peristiwa kesehatan dalam populasi pada masa depan? | Proyeksi, estimasi, atau prediksi tren kejadian berdasarkan data dan model yang tersedia | Prediktif |
| Apa saja intervensi atau kebijakan untuk mencegah atau mengendalikan suatu kondisi atau peristiwa kesehatan dalam populasi? | Intervensi atau kebijakan serta evaluasi efektivitas, efisiensi, dan kesetaraannya | Intervensional (atau eksperimental) |
Berdasarkan uraian ini, paling tidak terdapat empat jenis kajian epidemiologi, yaitu epidemiologi deskriptif, analitis, prediktif, dan intervensional.
7. Jenis kajian epidemiologi
Di bagian sebelumnya, kita telah membahas definisi epidemiologi yang komprehensif, yaitu “studi ilmiah mengenai distribusi dan determinan dari kondisi atau peristiwa yang berhubungan dengan kesehatan pada populasi yang spesifik dan penerapan studi ini untuk mengendalikan masalah kesehatan”.
-
Epidemiologi deskriptif adalah cabang epidemiologi yang memerinci kejadian suatu kondisi atau peristiwa kesehatan dalam populasi berdasarkan karakteristik individu, tempat, dan waktu. Dalam epidemiologi deskriptif, kita berfokus pada kasus positif. Ia menguraikan unsur “distribusi” dalam definisi epidemiologi di atas.
-
Epidemiologi analitis adalah cabang epidemiologi yang menggali penyebab dan/atau faktor yang berperan dalam terjadinya kondisi atau peristiwa kesehatan dalam populasi. Dalam epidemiologi analitis, kita menguji hipotesis dengan cara membandingkan kasus positif dan kasus negatif. Ia menguraikan unsur “determinan” dalam definisi epidemiologi di atas.
-
Epidemiologi prediktif adalah cabang epidemiologi yang memperkirakan kemungkinan kejadian suatu kondisi atau peristiwa kesehatan pada masa depan berdasarkan data dan tren yang ada. Ia mendukung unsur “penerapan” dalam definisi epidemiologi di atas karena hasil proyeksi dan estimasi tersebut digunakan untuk merencanakan kesiapan serta tindakan pencegahan yang efektif sebelum masalah kesehatan memburuk
-
Epidemiologi intervensional adalah cabang epidemiologi yang merancang, menerapkan, dan mengevaluasi tindakan atau kebijakan untuk mencegah atau mengendalikan kondisi atau peristiwa kesehatan dalam populasi. Ia menguraikan unsur “penerapan” dalam definisi epidemiologi di atas.
Namun, pada mata kuliah ini, kita hanya akan mendalami epidemiologi deskriptif dan epidemiologi analitis. Untuk memperjelas perbedaan antara keduanya, berikut contoh narasi singkat pada beberapa topik penelitian.
- Kecanduan merokok pada penduduk Indonesia.
- Epidemiologi deskriptif: Seorang peneliti akan menggambarkan seberapa banyak kasus kecanduan merokok, siapa yang paling banyak kecanduan (misalnya berdasarkan umur, jenis kelamin, pekerjaan), di wilayah mana kasus paling banyak terjadi, dan pada periode waktu apa kecenderungan kasus meningkat.
- Epidemiologi analitis: Seorang peneliti akan menguji apakah faktor tertentu, seperti tingkat pendidikan, paparan iklan rokok, atau pengaruh teman sebaya, berkaitan secara signifikan dengan kecanduan merokok, dengan cara membandingkan kelompok yang kecanduan dan yang tidak kecanduan.
- Rabun jauh pada mahasiswa Universitas Hasanuddin.
- Epidemiologi deskriptif: Seorang peneliti akan menghitung proporsi mahasiswa yang mengalami rabun jauh, memerinci berdasarkan fakultas, usia, jenis kelamin, serta melihat apakah kasus lebih banyak terjadi pada mahasiswa tahun awal atau akhir.
- Epidemiologi analitis: Seorang peneliti akan mengevaluasi apakah lama waktu penggunaan gawai atau kebiasaan membaca dalam pencahayaan buruk berkaitan dengan kejadian rabun jauh, dengan membandingkan mahasiswa yang rabun jauh dan yang tidak.
- Obesitas pada anjing di Kota Makassar.
- Epidemiologi deskriptif: Seorang peneliti akan melaporkan berapa banyak anjing yang mengalami obesitas, di kelurahan mana saja kasus paling banyak ditemukan, jenis ras anjing apa yang paling sering mengalami obesitas, dan tren kasus obesitas dalam beberapa tahun terakhir.
- Epidemiologi analitis: Seorang peneliti akan mengkaji apakah pola makan, kurangnya aktivitas fisik, atau kebiasaan pemberian camilan oleh pemilik berhubungan dengan kejadian obesitas, dengan membandingkan anjing obesitas dan anjing yang tidak obesitas.
8. Peran epidemiologi bagi populasi hewan
Kita sudah tahu bahwa epidemiologi menangani populasi. Secara garis besar, peran epidemiologi terhadap populasi hewan bisa dibagi menjadi dua:
-
Jika dalam populasi belum ada masalah kesehatan tertentu, epidemiologi dapat digunakan untuk mencegah masalah kesehatan tersebut masuk ke dalam populasi. Sebagai contoh, pes ruminansia kecil (peste des petits ruminants) merupakan penyakit yang belum ada di Indonesia. Prinsip-prinsip epidemiologi dapat digunakan untuk menjaga agar Indonesia tetap bebas dari penyakit ini.
-
Jika dalam populasi sudah ada masalah kesehatan tertentu, epidemiologi dapat digunakan untuk menurunkan kasus masalah kesehatan tersebut. Ada dua contoh skenario untuk hal ini.
- Saat terjadi wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) di suatu kabupaten, prinsip-prinsip epidemiologi dapat digunakan untuk mengendalikan wabah dan menurunkan kasus PMK.
- Bruselosis sapi merupakan penyakit yang endemis di Provinsi Sulawesi Selatan. Prinsip-prinsip epidemiologi dapat digunakan untuk mengeliminasi penyakit ini sehingga Sulawesi Selatan menjadi provinsi yang bebas dari bruselosis sapi.
Apakah epidemiologi hanya diterapkan pada penyakit menular? Ternyata, cakupannya jauh lebih luas. Ilmu ini juga dapat digunakan untuk mempelajari masalah kesehatan non-infeksius. Sebagai contoh, kita dapat menggunakan epidemiologi untuk mengidentifikasi penyebab rendahnya efisiensi reproduksi pada sapi atau menelaah faktor risiko di balik tingginya kasus feline lower urinary tract disease (FLUTD). Dengan menemukan faktor risikonya, kita dapat merekomendasikan perubahan cara pemeliharaan yang lebih akurat.
Epidemiologi juga membantu kita mengambil keputusan secara lebih cerdas dan efisien. Saat menghadapi keterbatasan sumber daya (misalnya keterbatasan anggaran, jumlah personel, maupun stok vaksin), kita tidak mungkin menangani semua masalah di semua tempat secara bersamaan. Melalui kajian epidemiologis, kita dapat memetakan wilayah yang paling berisiko atau kelompok hewan yang paling rentan. Informasi ini membantu kita untuk menentukan skala prioritas sehingga sumber daya yang tersedia dapat memberi dampak paling besar bagi populasi hewan.
Terakhir, peran epidemiologi veteriner sangat krusial dalam menjaga kesehatan manusia melalui pendekatan satu kesehatan. Banyak penyakit pada hewan bersifat zoonotik yang dapat menular ke manusia. Dengan melakukan deteksi dini dan pengendalian penyakit seperti rabies atau flu burung pada populasi hewan, kita turut mencegah penularan penyakit-penyakit tersebut ke masyarakat.
Meskipun epidemiologi dapat digunakan untuk berbagai hal dalam populasi, ada prasyarat yang harus dipenuhi agar ilmu ini dapat digunakan secara efektif, yaitu adanya data yang valid, reliabel, dan berkualitas. Kita tidak dapat mencegah, menurunkan, atau mengeliminasi suatu masalah kesehatan dari populasi jika kita tidak memiliki data tentang populasi tersebut. Oleh karena itu, tahap paling awal yang harus dilakukan adalah mengumpulkan data mengenai populasi.
B. Estimasi populasi hewan
Maksud dari estimasi di sini adalah perkiraan. Di bagian ini, kita akan membahas cara memperkirakan populasi hewan. Sering kali, kita tidak bisa menghitung jumlah hewan secara tepat. Oleh karenanya, kita memerlukan teknik estimasi yang sesuai.
1. Konsep populasi hewan
Populasi hewan adalah sekumpulan hewan dari tingkat taksonomi yang sama (biasanya spesies) yang hidup di suatu wilayah pada periode waktu tertentu.
Saat berbicara tentang populasi, fokus utama kita adalah menghitung jumlah hewan. Namun pada satwa akuatik seperti ikan atau udang, populasi biasanya tidak dihitung berdasarkan jumlah individu (ekor). Mereka dinyatakan dengan satuan massa atau biomassa (misalnya kilogram atau ton) karena jumlah individunya sangat banyak dan ukuran tubuhnya relatif kecil.
Selain jumlah hewan, terkadang kita juga perlu mendata karakteristik demografis lain, misalnya jenis kelamin, perkiraan umur, serta distribusi spasial dan kepadatan. Variabel-variabel ini membantu kita memahami struktur populasi dengan lebih baik.
Berikut ini variabel tambahan yang dapat menggambarkan struktur populasi hewan beserta alasan pengumpulan datanya.
-
Jenis kelamin, karena komposisi hewan jantan dan betina berpengaruh terhadap kemampuan reproduksi dan laju pertumbuhan populasi.
-
Perkiraan umur, karena perbedaan kelompok umur hewan (misalnya muda, dewasa, senior) memengaruhi perbedaan kerentanan terhadap penyakit. Selain itu, proporsi hewan muda yang tinggi dapat menjadi indikator keberhasilan reproduksi.
-
Distribusi spasial dan kepadatan, karena pola sebaran hewan (apakah merata, mengelompok, atau acak) sangat memengaruhi peluang kontak antarindividu. Pola ini selanjutnya memengaruhi kecepatan penularan penyakit. Selain itu, risiko penularan penyakit juga lebih besar pada populasi dengan kepadatan tinggi dibandingkan populasi dengan kepadatan rendah.
Dalam epidemiologi, kita perlu membedakan populasi target dan populasi terjangkau. Populasi target adalah keseluruhan kelompok hewan yang ingin kita pelajari, misalnya seluruh populasi unggas komersial di sebuah provinsi yang berisiko terkena flu burung. Namun, pada praktiknya, kita sering kali hanya mampu mengakses sebagian dari populasi target tersebut, yang disebut populasi terjangkau. Keterbatasan akses lokasi, waktu, dan sumber daya menyebabkan tidak semua individu dalam populasi target dapat diobservasi atau diikutsertakan dalam kajian.
2. Mengapa kita perlu mengetahui populasi hewan?
Setelah memperoleh informasi tentang jumlah dan struktur populasi hewan, apa yang selanjutnya kita lakukan terhadap informasi ini? Paling tidak, ada tiga aspek kehidupan yang mendapatkan manfaat dari data populasi hewan, yaitu kesehatan, ekonomi, dan ekologi.
-
Aspek kesehatan hewan dan manusia. Populasi merupakan angka yang penting dalam epidemiologi. Data mengenai jumlah hewan yang sakit tidak bermakna jika kita tidak tahu populasi hewan yang berisiko. Sebagai contoh, temuan 10 kasus penyakit akan memiliki makna yang berbeda tergantung pada jumlah total hewannya.
- Jika populasi berjumlah 20 ekor, maka proporsi penyakit mencapai 50%.
- Jika populasi berjumlah 1.000 ekor, maka proporsi penyakit hanya 1%.
Angka populasi ini berfungsi sebagai pembagi atau penyebut (denominator) yang memungkinkan kita mengukur tingkat keparahan atau risiko suatu penyakit. Data populasi hewan yang menjadi inang atau reservoir bagi patogen dan parasit zoonotik, misalnya anjing dan tikus, dapat kita gunakan untuk memperkirakan risiko penularan penyakit ke manusia. Sebagai contoh, dengan mengetahui data populasi anjing dan pola pemeliharaannya (apakah banyak anjing jalanan atau anjing peliharaan), kita bisa memetakan potensi rabies, menghitung jumlah vaksin yang diperlukan untuk membentuk kekebalan kelompok (70% dari populasi harus kebal), dan merancang alokasi sumber daya untuk menjalankan program vaksinasi. Tanpa mengetahui jumlah anjing, kita tidak akan pernah tahu apakah program vaksinasi yang kita lakukan sudah cukup untuk melindungi masyarakat atau belum.
-
Aspek ekonomi dan usaha. Pada hewan produksi seperti sapi, ayam, atau ikan budi daya, data populasi untuk mengukur sistem ekonomi dan ketahanan pangan. Dengan mengetahui jumlah populasi, struktur umur, dan laju pertumbuhan hewan, kita dapat memperkirakan jumlah daging, susu, atau telur yang akan dihasilkan pada masa depan. Informasi ini lantas digunakan untuk menghitung nilai ekonomi, menganalisis keseimbangan antara stok dan kebutuhan masyarakat (misalnya apakah hanya cukup untuk konsumsi domestik atau bisa diekspor), dan merencanakan sumber daya untuk memelihara hewan, seperti pakan, obat-obatan, dan infrastruktur kandang. Di level nasional, data populasi digunakan pemerintah untuk menetapkan kebijakan pangan dan pengembangan industri, misalnya pengolahan pangan asal hewan.
Baik bagi pemerintah maupun sektor swasta, data populasi hewan dimanfaatkan untuk memperkirakan jumlah dokter hewan dan paramedis yang dibutuhkan di suatu wilayah. Selain itu, kita juga bisa memperkirakan kebutuhan klinik hewan, pusat kesehatan hewan, laboratorium, alat-alat diagnostik, vaksin, obat-obatan, dan sarana pendukung lainnya berdasarkan jumlah dan kepadatan populasi hewan. Jika ternyata suatu wilayah masih memerlukan tenaga kesehatan hewan, maka unit lembaga pemerintah atau unit usaha perlu didirikan di wilayah tersebut.
-
Aspek ekologi. Pada satwa liar, data populasi sangat penting untuk menilai status konservasi mereka. Dengan menganalisis struktur dan dinamika demografi populasi suatu spesies, kita bisa memproyeksikan keberlangsungan hidup spesies tersebut pada masa depan, misalnya apakah populasi satwa menurun karena tingginya perburuan atau karena habitatnya menghilang. Informasi ini dijadikan dasar untuk menyusun strategi konservasi.
3. Perbedaan antara penghitungan populasi manusia dan hewan
Cara menghitung populasi manusia dan hewan sangat berbeda. Saat kita ingin menghitung populasi hewan, ada banyak keterbatasan yang kemudian menimbulkan ketidakpastian. Tiga aspek utama yang membedakan penghitungan populasi manusia dan hewan adalah administrasi, metode deteksi, dan dinamika populasi.
-
Aspek administrasi. Manusia memiliki identitas formal yang bersifat individual dan wajib dimiliki, misalnya nomor induk kependudukan. Identitas ini dikelola oleh pemerintah secara sistematis dan berkelanjutan, sehingga perkiraan populasi manusia relatif akurat dan mudah diverifikasi.
Pada hewan ternak, identifikasi dapat berupa ear tag atau sistem pencatatan pada unit peternakan. Pada hewan kesayangan, identifikasi dapat berupa microchip, buku vaksinasi, atau registrasi pada klinik atau organisasi tertentu. Namun, sistem identifikasi ini tidak bersifat universal, tidak terintegrasi, dan sangat bergantung pada inisiatif pemilik. Di sisi lain, satwa liar dan hewan jalanan biasanya tidak memiliki identitas formal sama sekali. Akibatnya, data populasi hewan sulit diperoleh dan dikelola.
-
Metode deteksi. Pengumpulan data populasi manusia dapat dilakukan melalui sensus rumah tangga, registrasi penduduk, atau survei yang relatif mudah dijalankan karena manusia dapat melaporkan dirinya sendiri atau memberikan informasi secara langsung.
Pada hewan, prosesnya jauh lebih sulit. Meskipun kita ingin mendata hewan, ternyata faktor manusia malah berperan penting. Saat kita mendata hewan berpemilik, keberhasilannya sangat bergantung pada kesediaan si pemilik. Jika pemilik kooperatif, data bisa langsung kita peroleh. Namun, bisa saja pemilik enggan melaporkan jumlah hewan yang sebenarnya, misalnya karena alasan ekonomi, regulasi, pajak, atau kekhawatiran terhadap pembatasan dan tindakan pengendalian penyakit. Hal ini membuat data menjadi tidak akurat.
Di sisi lain, pendataan hewan tidak berpemilik, seperti hewan jalanan dan satwa liar, tidak secara langsung dipengaruhi oleh faktor manusia. Mereka dapat diamati langsung di lapangan. Namun, hewan-hewan ini sulit dideteksi karena mobilitasnya tinggi, hidup di habitat yang luas atau tersembunyi, dan sering menghindari manusia. Selain itu, bias muncul karena kita sulit membedakan individu yang sama dalam pengamatan berulang.
-
Dinamika populasi. Kita juga perlu memahami bahwa populasi hewan bersifat dinamis. Artinya, jumlah dan strukturnya selalu berubah dari waktu ke waktu. Perubahan ini dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu kelahiran, kematian, dan perpindahan (migrasi).
- Kelahiran. Populasi dapat melonjak drastis pada spesies yang memiliki tingkat reproduksi tinggi. Pada usaha budi daya (breeding), pertumbuhan populasi juga dapat direkayasa dengan memodifikasi cara hewan bereproduksi, baik secara alami maupun melalui teknologi reproduksi seperti inseminasi buatan.
- Kematian. Populasi dapat merosot tajam akibat wabah penyakit, kebijakan pemusnahan hewan untuk pengendalian penyakit menular, maupun penyembelihan massal, seperti pada hari Iduladha.
- Perpindahan. Arus ekspor-impor dan lalu lintas ternak antarwilayah dapat mengubah struktur populasi dengan cepat, sedangkan migrasi alamiah merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan saat memperkirakan populasi satwa liar.
4. Faktor yang perlu dipertimbangkan
Sebelum memilih metode estimasi, kita perlu memahami konteks dan karakteristik populasi yang akan dikaji. Jika kita mengabaikan hal-hal di bawah ini, hasil estimasi bisa jadi tidak akurat, meskipun metode yang digunakan sudah tepat.
-
Tujuan kita menghitung. Apa alasan kita melakukan estimasi? Apakah untuk merencanakan program, menyusun kebijakan, menganalisis faktor ekonomi, atau meneliti aspek epidemiologis? Jika kita hanya membutuhkan data untuk perencanaan awal suatu program, mungkin perkiraan kasar sudah cukup. Namun, jika data tersebut akan digunakan untuk mengevaluasi sebuah kebijakan pemerintah atau untuk penelitian ilmiah, kita tentu memerlukan tingkat presisi yang jauh lebih tinggi. Tanpa tujuan yang jelas, angka yang kita peroleh bisa jadi tidak relevan untuk digunakan.
-
Siapa yang kita hitung? Kita harus melihat apakah target kita adalah hewan produksi, hewan kesayangan, atau satwa liar. Karakter mereka berbeda-beda. Status kepemilikan hewan (apakah hewan tersebut berpemilik, semi-berpemilik, atau tidak berpemilik) juga menentukan apakah data dapat diperoleh melalui informasi dari manusia atau harus dikumpulkan melalui observasi langsung. Hewan domestik yang dikelola manusia biasanya lebih mudah kita data dibandingkan satwa liar atau hewan feral yang terus berpindah tempat dan sulit dijangkau.
-
Sifat biologis dan perilaku hewan. Kita perlu memahami karakter target kita, mulai dari ukuran tubuh, pola aktivitas harian, hingga perilaku sosialnya. Ketiga hal ini memengaruhi peluang deteksi dan akurasi pengamatan kita. Hewan yang hidup berkelompok dan aktif pada siang hari relatif lebih mudah kita temukan daripada hewan soliter yang hanya keluar di malam hari. Selain itu, siklus reproduksi juga perlu dipertimbangkan. Jika tingkat kelahiran atau kematian sangat tinggi, angka populasi yang kita hitung hari ini bisa jadi sudah tidak relevan lagi dalam waktu singkat.
-
Skala ruang dan waktu. Apakah kita menghitung untuk tingkat desa, kecamatan, atau kabupaten? Kita sering kali menggunakan batas-batas administratif karena datanya lebih mudah dikelola oleh negara. Namun, perlu diingat bahwa batas wilayah yang dibuat manusia ini tidak selalu sesuai dengan batas biologis atau wilayah jelajah alami hewan. Kita juga harus menentukan apakah angka yang kita kumpulkan berlaku untuk satu titik waktu tertentu atau untuk periode waktu yang lebih lama. Pada populasi yang dinamis, perbedaan waktu pengamatan dapat menghasilkan estimasi yang sangat berbeda.
-
Ketersediaan sumber daya dan keterbatasan operasional. Kita membutuhkan waktu, biaya, tenaga, dan keahlian untuk mengoperasikan alat tertentu. Di sisi lain, kondisi geografis, kemudahan akses ke lokasi hewan, dan keamanan personel di lapangan dapat membatasi pilihan metode yang bisa kita ambil. Jika kita ingin menggunakan teknologi seperti drone atau kamera khusus, kita juga harus memastikan ada operator yang siap mendukung.
-
Aspek etika, kesejahteraan hewan, dan sosial. Setiap metode yang melibatkan penangkapan atau manipulasi fisik hewan harus mengedepankan prinsip kesejahteraan hewan. Hewan diusahakan tidak terlalu stres dan tidak cedera. Pada hewan berpemilik, penerimaan dari masyarakat dan kerja sama pemilik menjadi faktor penentu keberhasilan pengumpulan data. Kita juga perlu memperhatikan aspek hukum dan regulasi, termasuk perizinan dan kewenangan, agar kegiatan estimasi populasi tidak memicu konflik atau dampak negatif bagi masyarakat.
Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa setiap estimasi populasi selalu mengandung asumsi dan unsur ketidakpastian:
- Asumsi mengenai akurasi cara deteksi, perpindahan hewan, atau stabilitas populasi harus dinyatakan secara jelas.
- Sumber ketidakpastian dan potensi kesalahan perlu diidentifikasi dan dipertimbangkan dalam menginterpretasikan hasil.
Dengan memahami keterbatasan ini, kita bisa menyimpulkan bahwa angka populasi bukanlah nilai absolut, melainkan perkiraan yang memiliki rentang ketelitian tertentu. Pemahaman ini selanjutnya digunakan untuk memilih metode estimasi yang paling sesuai, yang akan kita bahas pada bagian selanjutnya
5. Jenis pendekatan dan metode
Ada berbagai metode untuk memperkirakan populasi hewan. Secara garis besar, kita dapat membaginya menjadi dua, yaitu estimasi berbasis data primer dan data sekunder.
- Estimasi berbasis data primer. Data dikoleksi dari lapangan pada waktu dan lokasi tertentu. Peneliti terlibat langsung dalam proses pengamatan, pencatatan, atau pengukuran sehingga ia memiliki kendali penuh atas desain dan kualitas data. Meskipun demikian, pendekatan ini biasanya menyita banyak waktu dan biaya.
- Observasi langsung terhadap individu hewan. Metode ini berfokus untuk mendeteksi keberadaan individu hewan secara fisik di lapangan, baik dengan melihat langsung atau menggunakan alat bantu seperti drone atau kamera suhu. Akurasinya sangat bergantung pada kemampuan dalam mendeteksi hewan, kondisi lingkungan, serta desain pengamatan.
- Penghitungan menyeluruh (sensus). Peneliti menghitung setiap individu dalam suatu populasi tanpa ada yang terlewat. Cara ini paling efektif diterapkan pada populasi tertutup dengan jumlah hewan yang relatif sedikit dan mendiami area yang batas-batasnya jelas.
- Penghitungan berbasis sampel area. Karena keterbatasan sumber daya untuk menyisir seluruh wilayah, peneliti hanya menghitung hewan pada beberapa titik contoh sebagai perwakilan. Hasil dari sampel tersebut kemudian diproyeksikan untuk menggambarkan populasi di seluruh area studi. Ketepatan estimasi bergantung pada desain sampling dan representativitas area yang dipilih.
- Metode kuadrat/plot. Area studi dibagi menjadi petak-petak kecil (plot) dengan ukuran tertentu. Seluruh hewan di dalam plot terpilih akan dihitung, lalu hasilnya akan digunakan untuk memperkirakan jumlah hewan pada keseluruhan area. Metode ini sering digunakan pada populasi yang relatif menetap dan mudah diamati dalam batas ruang tertentu.
- Metode transek. Peneliti menyusuri jalur linear yang telah ditentukan dan mencatat setiap hewan yang dijumpai sepanjang perjalanan. Data yang diperoleh digunakan untuk memperkirakan kepadatan atau jumlah populasi. Metode ini memiliki beberapa varian: transek garis, transek jalur, dan pendekatan yang mempertimbangkan jarak deteksi. Teknik-teknik ini sering digunakan untuk memantau satwa liar, anjing jalanan, atau ternak yang dilepaskan di padang penggembalaan luas.
- Penghitungan berbasis probabilitas deteksi. Peneliti menangkap hewan, menandainya, melepaskannya kembali, dan pada kesempatan yang berbeda, ia berusaha menangkap hewan lagi. Pada tangkapan kedua, peneliti melihat rasio hewan yang telah ditandai dan belum ditandai. Metode ini disebut capture-mark-recapture. Peneliti kemudian menggunakan pemodelan matematika untuk memperkirakan jumlah hewan yang tidak terlihat berdasarkan rasio hewan yang berhasil ditemukan kembali. Metode ini dipilih pada populasi tertutup (jumlah hewannya relatif stabil) dan dengan pertimbangan bahwa tidak semua individu dalam populasi dapat terdeteksi pada setiap pengamatan.
- Observasi tidak langsung terhadap tanda keberadaan hewan. Jika hewannya sulit ditemukan, peneliti dapat beralih untuk menghitung bukti keberadaan mereka. Bukti ini bisa berupa feses, jejak kaki, sarang, suara, hingga materi genetik hewan yang tertinggal di lingkungan (disebut dengan environmental DNA atau eDNA).
- Estimasi berbasis pelaporan manusia. Data primer juga bisa diperoleh dengan mengumpulkan data dari orang-orang yang bersinggungan langsung dengan hewan. Peneliti menggali informasi dari masyarakat melalui kuesioner dan wawancara. Akurasi metode ini sangat bergantung pada kejujuran, ingatan, catatan, dan pemahaman responden.
- Observasi langsung terhadap individu hewan. Metode ini berfokus untuk mendeteksi keberadaan individu hewan secara fisik di lapangan, baik dengan melihat langsung atau menggunakan alat bantu seperti drone atau kamera suhu. Akurasinya sangat bergantung pada kemampuan dalam mendeteksi hewan, kondisi lingkungan, serta desain pengamatan.
- Estimasi berbasis data sekunder. Pendekatan ini memanfaatkan informasi yang sudah dikumpulkan oleh pihak lain. Peneliti tidak perlu pergi ke lapangan. Ia hanya mengolah dan menganalisis data yang tersedia. Penggunaan data sekunder sangat efisien untuk mendapatkan gambaran populasi hewan. Namun, kualitas estimasi si peneliti sangat tergantung pada mutu dan relevansi data yang digunakan.
- Data administratif. Sumber data berasal dari pencatatan resmi instansi pemerintah (misalnya angka populasi ternak dari Badan Pusat Statistik) atau catatan vaksinasi. Data ini biasanya menjadi landasan dalam penyusunan kebijakan, bukan untuk penelitian populasi.
- Data penelitian sebelumnya. Peneliti merujuk pada angka estimasi yang sudah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah atau dokumen proyek lembaga konservasi. Data ini dapat digunakan sebagai referensi atau pembanding. Namun, perbedaan waktu, metode, dan cakupan wilayah harus diperhatikan agar interpretasi tidak keliru.
- Estimasi turunan dari data sekunder. Angka populasi hewan diperoleh melalui kalkulasi menggunakan data penunjang lain yang memiliki korelasi kuat. Contohnya adalah memperkirakan jumlah anjing melalui rasio populasi manusia di suatu kota atau menghitung populasi ayam pedaging berdasarkan volume pakan yang terdistribusi di daerah tersebut.
Kita dapat menggabungkan beberapa metode di atas untuk memperoleh hasil yang lebih meyakinkan. Strategi ini dikenal sebagai triangulasi data, yaitu upaya memverifikasi angka estimasi dengan membandingkan temuan dari berbagai sumber atau teknik yang berbeda.
6. Referensi mengenai populasi hewan
Kita dapat memperoleh data populasi hewan dari lembaga pemerintah, organisasi internasional, dan artikel ilmiah. Berikut ini beberapa tautan dari sumber yang kredibel.
Tabel 1.6. Sumber referensi dan basis data sekunder untuk populasi hewan
| No | Cakupan informasi | Tautan |
|---|---|---|
| 1 | Populasi ternak di Indonesia | Badan Pusat Statistik |
| 2 | Populasi ternak dunia | Food and Agriculture Organization livestockdata.org |
| 3 | Populasi satwa liar dunia | IUCN Red List |
III. Ringkasan
Kegiatan belajar ini membahas dasar-dasar epidemiologi veteriner yang merupakan studi ilmiah mengenai distribusi dan determinan dari peristiwa kesehatan pada populasi hewan yang bertujuan untuk mengendalikan masalah kesehatan. Mahasiswa diperkenalkan pada perbedaan peran antara klinisi yang berfokus pada kesembuhan individu dan epidemiolog yang berfokus pada pencegahan di tingkat populasi. Modul ini juga menguraikan berbagai pola kejadian penyakit seperti endemi, epidemi, sporadis, hingga pandemi, serta membedakan antara kajian deskriptif yang memetakan distribusi berdasarkan subjek, tempat, dan waktu dengan kajian analitis yang menguji hipotesis mengenai faktor risiko. Epidemiologi diposisikan sebagai instrumen untuk menjaga agar populasi tetap bebas dari ancaman penyakit, menurunkan kejadian penyakit, dan mengeliminasi penyakit yang telah menetap di suatu populasi. Selain aspek medis, pemahaman mengenai estimasi populasi hewan menjadi prasyarat utama karena data populasi berfungsi sebagai angka pembagi (penyebut) yang memungkinkan pengukuran tingkat keparahan atau risiko suatu penyakit secara akurat.